Jakarta,Rasionews.com | Seorang warga bernama Fidri menyampaikan keluhan serius terkait kualitas pelayanan yang diterimanya di Puskesmas Tanjung Priok, yang berada di Wilayah Papanggo, Jum’at (17/4/2026) Malam.
Menurut pengakuannya, proses penanganan medis yang ia alami berjalan lambat, kurang responsif terhadap kondisi kesehatannya, hingga dihadapkan pada kendala alat medis yang tidak berfungsi dengan baik.
Kejadian bermula saat Fidri mendaftarkan diri untuk berobat. Sejak awal, ia sudah secara jelas menyampaikan keluhan utamanya kepada petugas pendaftaran, yakni sesak napas yang ia rasakan serta kebutuhan untuk mendapatkan tindakan penguapan. Namun, meskipun kondisi tersebut telah diinformasikan, Fidri tetap diharuskan menunggu giliran dalam antrian panjang.
- Advertisement -
Karena merasa kondisinya memburuk dan tak kunjung mendapatkan penanganan, Fidri pun berinisiatif menghampiri petugas perawat yang bertugas. Ia kembali menjelaskan bahwa dirinya membutuhkan tindakan penguapan akibat sesak napas yang dideritanya. Sayangnya, tanggapan yang diterimanya tidak jauh berbeda: ia tetap diminta menunggu tanpa mendapatkan penanganan awal apa pun.
Beberapa saat kemudian, Fidri akhirnya dipanggil untuk menjalani pemeriksaan oleh Dokter Fadly. Selama proses pemeriksaan, Fidri menilai dokter tersebut menangani dirinya dengan santai dan tidak memberikan perhatian penuh terhadap keluhan yang disampaikan. Setelah melakukan pemeriksaan, Dokter Fadly menyimpulkan bahwa tidak ada gangguan pada pernapasan Fidri dan tidak ditemukan bunyi-bunyi abnormal melalui alat pemeriksaan yang digunakan.
- Advertisement -
Mendapatkan kesimpulan tersebut, Fidri pun berusaha meluruskan dengan menyatakan bahwa ia secara langsung merasakan napasnya berbunyi. Namun, Dokter Fadly tetap bersikukuh dengan pendapatnya, sembari berkata, “Iya, tapi di alat ini tidak ada bunyi. Saya sudah lama menangani kasus seperti ini.” Pernyataan ini membuat Fidri merasa kecewa, lantaran seolah-olah pihak medis lebih mempercayai hasil alat dibandingkan apa yang dirasakan langsung oleh pasien.
Beruntungnya, Fidri kemudian mendapatkan penanganan dari dr. Yosi Ningrum yang dinilainya lebih peka.
dr. Yosi Ningrum segera memindahkan Fidri ke ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan memberikan tindakan penguapan sesuai kebutuhan medisnya. Namun, kendala lain kembali muncul: selama 20 menit menunggu, cairan obat yang digunakan untuk penguapan tidak berkurang sedikit pun. Setelah diamati, ternyata tidak ada uap yang keluar dari alat medis tersebut.
Sekitar 20 menit seorang perawat datang dan segera mengganti alat yang rusak itu. Barulah setelah penggantian alat dilakukan, uap dapat keluar dengan lancar dan tindakan medis yang dibutuhkan Fidri dapat berjalan sebagaimana mestinya.
Berdasarkan pengalaman yang ia alami, Fidri berharap pihak pengelola Puskesmas Papanggo dapat melakukan perbaikan menyeluruh terhadap kualitas pelayanan.
Ia menekankan pentingnya ketelatenan dan kepekaan seluruh petugas medis dalam menangani setiap pasien.
“Kami ini adalah manusia yang membutuhkan pertolongan, bukan objek percobaan yang bisa ditangani sembarangan. Semoga ke depannya pelayanan di sini bisa lebih baik, cepat tanggap, dan selalu mengutamakan keselamatan serta kenyamanan pasien,” pungkas Fidri.



