JAKARTA, dki.rasionews.com — Kegemparan muncul di sekitar Sekolah Swasta Penabur Intercultural School (PIS) Kelapa Gading setelah karangan bunga dengan tulisan “Playing Victim” dipajang di depan sekolah, dengan dugaan keterlibatan oknum Jaksa berinisial DWLS (diduga Non Job) yang juga orang tua murid. Meskipun orang tua murid menyangkal dan menyebutnya sebagai “solidaritas”, klaim ini justru dinilai ironis dan berpotensi manipulatif untuk mendapatkan simpati masyarakat.
Orang tua murid yang enggan disebut nama menjelaskan via telepon, Jumat (05/12/2025) siang, bahwa dana untuk karangan bunga berasal dari donasi urunan orang tua murid kelas 1 hingga 6 SD. Namun, bukti untuk klaim ini belum ada. “Pokoknya itu solidaritas dari seluruh orang tua murid, dari kelas 1 sampai kelas 6,” ujarnya.
Ketika ditanya terkait keterlibatan Jaksa DWLS (yang dikenal dengan panggilan D), orang tua murid itu seolah tidak paham. “Saya kurang tahu, saya juga enggak kenal. Saya tahu anaknya, tapi sama orangnya saya enggak bergaul. Dia kan laki-laki, saya biasanya bergaul sama ibu-ibu,” paparnya. Meskipun demikian, ia mengakui bahwa D memang berprofesi sebagai Jaksa dan putrinya belajar di PIS, serta menekankan pentingnya bukti dari CCTV sekolah. Ia juga menegaskan tidak pernah berkomunikasi langsung dengan D terkait penggalangan dana atau pemasangan bunga: “Saya enggak ada kontak sama dia sih. I don’t think so.”
LSM GRACIA Mengecam Aksi Pengecut dan Pemasangan Pihak Tertentu
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Gerakan Cinta Indonesia (GRACIA) mengecam keras kemunculan karangan bunga bernada provokatif yang dianggap menyudutkan, mengkambing-hitamkan, dan mencemarkan nama baik LSM serta aparat. Sekretaris GRACIA Hisar Sihotang, bersama O. Pakpahan (Bidang Hukum) dan Arny Novida Haryati Harianja (Ketua Bidang Pendidikan), menyebut aksi ini sebagai “tindakan janggal, masif, dan terstruktur” yang muncul di jam subuh lalu menghilang kembali.
“Ini jelas ditujukan untuk menyudutkan GRACIA melalui penyebutan LSM. Saya meyakini ada yang bermain di belakang layar terkait pemasangan karangan bunga tersebut,” ujar Hisar. Menurutnya, bunga itu muncul setelah GRACIA mengirim surat resmi ke sekolah untuk meminta klarifikasi soal dugaan hoaks, fitnah, bullying, dan diskriminasi terhadap beberapa murid.
- Advertisement -
Hisar juga mengingatkan agar persoalan murid SD PIS ditangani oleh sekolah dan orang tua, bukan menjadi ajang permainan kekuasaan. “Jangan ada pemutarbalikan fakta. Jangan ada rekayasa untuk menyudutkan anak-anak yang masih polos,” imbuhnya. Ia menegaskan GRACIA sama sekali tidak terkait dengan premanisme, sementara muncul isu liar bahwa oknum Jaksa DWLS menggerakkan ibu-ibu orang tua murid untuk memasang bunga dan memprovokasi narasi terhadap LSM.
Sementara itu, O. Pakpahan menanggapi tuntutan dalam karangan bunga agar Pemda Jakut mencabut izin LSM sebagai “asal bunyi dan tidak berdasar” karena tidak memahami mekanisme hukum. “Permasalahan anak harusnya diselesaikan sekolah. GRACIA beritikad baik mengirim klarifikasi malah tidak direspons, sementara opini dibangun justru untuk mengadu domba para orang tua,” katanya.
Arny Novida juga menolak tuduhan bahwa GRACIA “memback-up” murid tertentu. “Kami hanya kirim surat klarifikasi. Tiba-tiba muncul tuduhan GRACIA backup murid. Tuduhan yang tidak mendasar sama sekali, emang yang backup siapa?,” tandasnya.
- Advertisement -
Ichsan (Tim)



