MUARA TEWEH,| Rasionews | 31 Agustus 2026 — Surat undangan rapat dari Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Muara Pari, Kecamatan Lahei, Kabupaten Barito Utara, yang berencana membahas mekanisme pemberian tali asih dari perusahaan, kini dipersoalkan. Banyak pihak menegaskan bahwa hal tersebut sama sekali bukan kewenangan dan tugas utama BPD sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Surat bertanggal 24 Agustus 2026 itu mengagendakan rapat pembahasan mekanisme pemberian tali asih terkait PPKH 281 PT. Nusa Persada Resources (PT NPR), yang dijadwalkan berlangsung pada 02 September 2026. Namun, langkah ini dinilai melampaui batas wewenang BPD sebagai lembaga perwakilan masyarakat di tingkat desa.
FUNGSI & KEWENANGAN BPD SESUAI ATURAN*
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, fungsi utama BPD adalah:
PERTAMA: Menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat desa
KEDUA: Mengawasi kinerja Pemerintah Desa
KETIGA: Membahas dan menyepakati rancangan peraturan desa bersama Kepala Desa
KEEMPAT: Memberikan persetujuan rancangan anggaran pendapatan dan belanja desa
KELIMA: Memberikan pertimbangan terhadap rencana kerja Pemerintah Desa
BUKAN KEWENANGAN BPD:
PERTAMA: Mengurus, mengatur, maupun menetapkan besaran dan mekanisme tali asih atau ganti rugi dari pihak perusahaan
KEDUA: Menjadi pihak yang bernegosiasi atau menandatangani perjanjian kompensasi lahan dengan perusahaan
KETIGA: Mengambil keputusan tunggal terkait hak-hak adat dan pemilik lahan
PERSPEKTIF HUKUM & MASYARAKAT
Sejumlah pengamat hukum dan tokoh adat menegaskan:
“Tali asih atau ganti rugi tanam tumbuh adalah hak langsung milik pemilik lahan dan masyarakat adat — bukan wewenang BPD untuk mengaturnya, apalagi membagi-baginya. BPD berfungsi mengawasi dan memfasilitasi, bukan mengambil alih hak masyarakat.”
- Advertisement -
tali asih harus melibatkan pemilik lahan secara langsung, tokoh adat, dan pemerintah desa — bukan BPD yang berperan seolah-olah pihak berwenang menetapkan dan mendistribusikan kompensasi tersebut. Jika hal ini tetap dilakukan, dikhawatirkan terjadi ketidakadilan, ketidaktahuan pemilik lahan, hingga hilangnya hak-hak adat yang seharusnya diterima masyarakat.
Prianto Bin Samsuri menegaskan, pemberian tali asih harus langsung kepada pemilik lahan, bukan melalui perantara pihak lain yang tidak berwenang,” tegasnya
“Tali asih adalah hak langsung milik pemilik lahan. Bukan urusan BPD untuk mengatur, membagi, maupun menunjuk siapa yang berhak menerima. Jika tetap dipaksakan, keputusan itu tidak sah dan dapat dibatalkan secara hukum.” ucapnya.
- Advertisement -
DAMPAK JIKA TETAP DILAKUKAN
PERTAMA: Keputusan rapat tersebut dapat digugat dan batal demi hukum karena dilakukan oleh lembaga yang tidak berwenang
KEDUA: Merugikan hak pemilik lahan yang tidak dilibatkan secara langsung
KETIGA: Memicu konflik baru di tengah masyarakat yang sudah lama menuntut keadilan atas lahan adatnya
KEEMPAT: Melampaui mandat dan fungsi BPD sebagaimana diamanatkan undang-undang
BPD adalah lembaga pengawas dan penampung aspirasi, bukan pelaksana urusan kompensasi perusahaan. Seluruh proses pembahasan tali asih wajib melibatkan pemilik lahan, tokoh adat, dan pemerintah desa secara terbuka, transparan, dan tanpa rekayasa. Setiap keputusan yang diambil tanpa melibatkan pihak-pihak berhak di atas tidak sah dan tidak mengikat secara hukum.
Sumber: Surat Undangan BPD Desa Muara Pari, No. 141.2/90/BPD-MPR/VIII/2026, 24 Agustus 2026 | UU No.6/2014 tentang Desa (Tim Red)


