RasioNews – Jakarta | Proyek pembangunan pasar di RW 04 kelurahan Marunda menjadi sorotan karena diduga melanggar prosedur persyaratan dan kurang transparan. Plang proyek yang tidak terpampang di depan area proyek membuat proyek ini menjadi misterius. Pembangunan pasar ini sebenarnya berada di atas lahan dinas perumahan daerah, namun terdapat permainan dimana plang proyek tersebut sengaja disembunyikan, Sabtu (2/12/2023).
Plang proyek yang tersembunyi ini terbaca pekerjaan pembangunan Sarana Prasarana Rumah Susun Nagrak dengan nomor kontrak 1256/RR.02.01. Proyek ini berlokasi di Jl. Sarang Bango, Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing, dengan nilai kontrak mencapai Rp. 12.175.000.000,-. Kontraktor pelaksana dari proyek ini adalah PT. SADATAHI JAYA TAMA.
Saat awak media mencoba konfirmasi kepada RJ, pengurus wilayah RW 04 kelurahan Marunda, dia mengungkapkan bahwa pembangunan ini tidak melibatkan komunikasi dengan wilayah tersebut. Malah, mereka mengajukan izin ke RW 011 yang bukan wilayahnya. Hal ini mencurigakan dan menimbulkan dugaan adanya permainan di balik proyek ini.
RJ juga mengungkapkan bahwa Humas proyek, Herwin Sibarani, mengadakan pertemuan antara ketua RW 04 Marunda dan RW 11 rusun Nagrak. Mereka sepakat bahwa separuh jatah kios dari pasar ini diberikan kepada warga rusun Nagrak dan separuhnya lagi untuk warga RW 04 Marunda. Inilah yang membuat situasi semakin aneh karena seolah-olah RW 11 mengaku bahwa proyek ini berada di wilayah mereka, padahal plang proyek tersebut jelas-jelas menunjukkan kelurahan Marunda.
RJ menegaskan bahwa selama ini dilakukan demi kepentingan masyarakat dan dia berharap semua dapat mengikutinya. Namun, warga rusun Nagrak menyuarakan ketidakpuasan mereka terhadap transparansi proyek ini. Mereka mengungkapkan bahwa tidak ada pemberitahuan atau sosialisasi mengenai pembangunan pasar ini kepada warga rusun mereka,
” Padahal sebelumnya telah dijelaskan bahwa tidak ada anggaran untuk pembangunan pasar atau UMKM di rusun Nagrak.” Pungkasnya.
- Advertisement -
Anehnya, proyek ini terkesan tidak transparan dengan dilakukannya pekerjaan dari siang hingga malam tanpa melibatkan warga sekitar. Terlebih lagi, lahan yang digunakan untuk proyek ini sebenarnya merupakan resapan air. Pemasangan plang proyek yang tidak terlihat oleh masyarakat yang melintas membuat muncul dugaan bahwa ada yang disembunyikan dan tidak transparan.
Saat media mencoba mengkonfirmasi ke kantor PT.SADATAHI JAYA TAMA, awak media merasa kecewa karena gagal bertemu dengan humas PT tersebut. Humas tersebut terkesan menghindar dan mengatakan lupa serta ada urusan lain. Hal ini semakin memperkuat dugaan bahwa proyek ini mencoba menghindari pertanyaan dan kritik dari media.
(F/Red).



