Jakarta – | Rasionews | Sejumlah aktivis yang tergabung dalam API Perubahan Indonesia menggelar kegiatan Ngobrol Pintar (NgoPi) bertajuk “Pertarungan Politik Dalam Skenario Rencana Kerusuhan Bulan Agustus: Siapa Dalang Rencana Penglengseran Presiden Prabowo?” di Caffe Mas Miskun, Jalan Percetakan Negara No. 15, Senen, Jakarta Pusat, Jumat (7/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung sekitar pukul 14.40 hingga 17.30 WIB itu dihadiri sekitar 25 peserta. Diskusi dipandu Bang Lapong sebagai moderator dengan menghadirkan sejumlah narasumber, yakni pengamat kebijakan dan intelijen Amir, Aktivis UI Bangkit Buyung Ishak, Direktur Duri Institute Agung Marsudi, serta pengamat dan Aktivis Bandung 98 Benz Jons Sastranegara. Aktivis sekaligus penulis Muslim Arbi hadir sebagai penanggap.
Dalam pembukaan, moderator menyinggung dinamika politik nasional yang menurutnya masih diwarnai kritik terhadap sejumlah pejabat pemerintahan. Ia juga mengangkat pandangan bahwa terdapat kelompok yang merasa dirugikan oleh sejumlah kebijakan pemerintah, termasuk kebijakan ekspor satu pintu dan pengambilalihan lahan sawit oleh negara.
Salah satu narasumber, Benz Jons Sastranegara, menilai potensi gejolak politik umumnya dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari persaingan elite politik, kepentingan ekonomi, tekanan sosial, hingga peran media sosial dalam penyebaran informasi. Menurutnya, yang perlu menjadi perhatian adalah pihak-pihak yang memperoleh keuntungan apabila terjadi instabilitas politik.
Ia juga menekankan bahwa perbedaan pandangan politik seharusnya diselesaikan melalui mekanisme demokrasi, dialog, dan penegakan hukum, bukan melalui tindakan kekerasan. Benz mengajak seluruh elemen masyarakat menjaga stabilitas nasional dan menolak berbagai bentuk provokasi yang berpotensi memecah belah bangsa.
Sementara itu, Amir menyampaikan sejumlah pandangannya terkait dinamika politik nasional. Dalam paparannya, ia mengemukakan berbagai dugaan mengenai faktor-faktor yang menurutnya memengaruhi situasi politik, termasuk mengaitkan isu tersebut dengan kelompok-kelompok tertentu serta kebijakan pemerintah. Ia juga menyinggung sejumlah isu seperti kebijakan ekspor satu pintu, proyek Kereta Cepat Whoosh, hingga konsistensi pelaksanaan kebijakan pemerintahan.
Sebagian pernyataan Amir berisi dugaan dan opini pribadi yang tidak disertai bukti yang dipaparkan dalam forum tersebut.
Direktur Duri Institute Agung Marsudi juga menyampaikan pandangannya mengenai konfigurasi politik nasional menjelang kontestasi politik mendatang. Dalam paparannya, ia menyampaikan sejumlah spekulasi mengenai dinamika elite politik, koalisi partai, hingga kemungkinan munculnya kekuatan politik baru pada Pemilu 2029.
Agung turut mengemukakan berbagai dugaan mengenai keterlibatan sejumlah tokoh maupun pihak asing dalam dinamika politik Indonesia. Pernyataan-pernyataan tersebut disampaikan sebagai pandangan pribadi dan tidak disertai bukti yang dapat diverifikasi.
Penanggap Muslim Arbi dalam kesempatan itu turut menyampaikan pandangannya mengenai sejarah pengelolaan sumber daya alam Indonesia, utang luar negeri, serta investasi asing. Ia juga mengemukakan dugaan adanya gerakan politik yang menurutnya tengah dipersiapkan.
Sementara Buyung Ishak menilai dukungan terhadap pemerintahan sebaiknya dilakukan melalui keterlibatan langsung dalam proses politik. Menurutnya, upaya menjaga stabilitas pemerintahan perlu dilakukan dari dalam sistem.
Kegiatan diskusi berakhir sekitar pukul 17.30 WIB dalam situasi yang berlangsung aman dan kondusif.
Berdasarkan informasi yang diperoleh, kegiatan tersebut tidak didahului penyampaian surat pemberitahuan kepada Polsek Senen maupun Polres Metro Jakarta Pusat sebagaimana mekanisme pemberitahuan kegiatan kepada kepolisian. Meski demikian, aparat kepolisian tetap melakukan pemantauan secara tertutup sebagai langkah antisipasi terhadap potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat.
(Humas Polres Metro Jakarta Pusat)


