Jakarta Utara, (20/08/2026) Rasionews.com — Sikap calon penyewa yang sudah bersikap bertanggung jawab dan memaklumi justru dibalas dengan tuduhan tidak berdasar dari pemilik kontrakan. Padahal calon penyewa telah memberikan alasan yang jelas, bahkan tidak meminta uang tanda jadi (DP) dikembalikan sebagai bentuk itikad baik, namun tetap dianggap “tidak berkomitmen”.
Kejadian bermula ketika calon penyewa berniat menyewa unit kontrakan dan menyerahkan uang tanda jadi. Sebelumnya telah disepakati perkiraan waktu pindah pada pertengahan bulan, tanpa penetapan tanggal yang mengikat secara pasti.
Beberapa hari kemudian, calon penyewa memberitahukan kondisi yang tidak terduga, dirinya sedang sakit dan baru saja selesai dirawat di rumah sakit, serta harus menjalankan tugas liputan dinas ke luar kota. Karena hal tersebut, calon penyewa menyampaikan permohonan untuk membatalkan kesepakatan dengan sopan dan meminta maaf.
- Advertisement -
Calon penyewa bahkan tidak meminta uang DP yang telah diserahkan untuk dikembalikan, sebagai bentuk tanggung jawab dan itikad baik atas ketidaknyamanan yang terjadi. Sebuah sikap yang seharusnya dihargai sebagai bentuk tanggung jawab, bukan tanda ketidakseriusan.
Namun alih-alih memahami kondisi tersebut, pemilik kontrakan justru bereaksi berlebihan. Pemilik kontrakan menuduh calon penyewa “tidak berkomitmen”, membatalkan secara sepihak, bahkan menyerang profesi calon penyewa sebagai wartawan dengan kalimat-kalimat yang merendahkan dan tidak relevan. Padahal tidak pernah ada kesepakatan tanggal pindah yang pasti dan mengikat.
- Advertisement -
“Saya sudah berikan alasan yang jujur, saya tidak minta uang saya kembali — itu bentuk tanggung jawab saya. Tapi kenapa justru saya dituduh tidak berkomitmen? Padahal saya yang sudah berkorban dengan mengikhlaskan uang saya sendiri demi tidak merugikan pihak lain,” ungkap calon penyewa.
Uang DP tetap berada di tangan pemilik kontrakan. Tidak ada kerugian materiil yang dialami pihak pemilik kontrakan. Namun tuduhan “tidak berkomitmen” justru ditujukan kepada pihak yang justru sudah bersikap paling bertanggung jawab — sebuah ironi dalam transaksi sosial yang seharusnya saling menghargai.


