Jakarta, dki.rasionews.com — Badan Musyawarah (Bamus) Betawi menelusuri jejak sejarah dan warisan budaya masyarakat Betawi melalui kunjungan serta diskusi di Museum Benyamin Sueb, Jatinegara, Jakarta Timur, Jumat (16/10/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari program penelusuran situs bersejarah di lima wilayah kota di Provinsi DKI Jakarta.
Program tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran sejarah, menjaga warisan budaya, serta memperkuat identitas masyarakat Betawi di tengah perkembangan Jakarta sebagai kota global.
Kegiatan dibuka oleh Kepala Bidang Pembinaan Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Rusmantoro, S.Sos., M.Si. Sementara itu, sambutan Bamus Betawi disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Bamus Betawi, Anas Mahrup.
Dalam sambutannya, Anas menekankan bahwa sejarah tidak hanya berkaitan dengan masa lalu, tetapi juga menjadi landasan bagi masyarakat Betawi dalam menentukan arah masa depan.
Menurut dia, pengenalan dan pewarisan sejarah kepada generasi muda penting dilakukan agar identitas Betawi tetap terjaga dan dapat berkontribusi dalam perkembangan Jakarta.
“Kaum Betawi tidak boleh tercerabut dari akar sejarahnya. Kita harus mengenal, merawat, dan mewariskan sejarah kepada generasi muda agar identitas Betawi tetap hidup dan mampu memberikan kontribusi bagi Jakarta sebagai kota global,” demikian pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Diskusi menghadirkan tiga narasumber, yakni H. Biem Triani Benyamin, Syarif Hidayatullah, dan Munir Arsyad. Mereka membahas pentingnya pelestarian warisan budaya, penguatan dokumentasi sejarah, serta keterlibatan masyarakat dalam menjaga situs-situs bersejarah.
H. Biem Triani Benyamin menyoroti peran museum dan peninggalan tokoh budaya sebagai sarana pendidikan sekaligus regenerasi kebudayaan. Sosok Benyamin Sueb menjadi salah satu contoh kontribusi seni dan kreativitas dalam memperkenalkan identitas Betawi kepada masyarakat luas.
Sementara itu, Syarif Hidayatullah menekankan perlunya penelusuran sejarah melalui sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, antara lain arsip, naskah, peta lama, peninggalan fisik, dan tradisi lisan.
Menurut perspektif tersebut, penelitian dan dokumentasi yang sistematis diperlukan agar sejarah Jakarta serta perjalanan masyarakat Betawi dapat dipahami secara lebih utuh dan akurat.
Adapun Munir Arsyad menyoroti pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga museum, makam tokoh, situs bersejarah, dan berbagai peninggalan budaya. Upaya pelestarian, menurutnya, perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui pendataan, perawatan, dokumentasi, edukasi, dan kerja sama berbagai pihak.
Museum sebagai Ruang Pembelajaran
Pemilihan Museum Benyamin Sueb sebagai lokasi kegiatan memiliki arti penting dalam mengingat kontribusi tokoh seni dan budaya terhadap perkembangan identitas Jakarta.
Museum tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan koleksi, tetapi juga dapat menjadi ruang pembelajaran bagi masyarakat untuk mengenal perjalanan sejarah, kreativitas, dan karakter budaya Betawi.
Melalui program penelusuran situs bersejarah di lima wilayah kota Jakarta, Bamus Betawi mendorong penguatan inventarisasi situs, dokumentasi sejarah, publikasi, pendidikan kebudayaan, serta pelibatan generasi muda.
Langkah tersebut diharapkan dapat membangun gerakan pelestarian sejarah yang lebih terencana dan berkesinambungan, sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap pengetahuan mengenai warisan budaya Betawi.
Bamus Betawi berpandangan bahwa kemajuan Jakarta sebagai kota global harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga identitas dan warisan budaya masyarakatnya.
Sejarah dan kebudayaan Betawi dinilai bukan sebagai penghambat modernisasi, melainkan sebagai modal sosial dan kultural yang dapat memperkuat karakter Jakarta di tengah perkembangan dunia.
Melalui kegiatan ini, Bamus Betawi menegaskan komitmennya untuk terus merawat sejarah, memperkuat persatuan, dan mendorong keberlanjutan peradaban Betawi melalui kolaborasi antara pemerintah, organisasi kemasyarakatan, tokoh budaya, akademisi, dan generasi muda.
“Jangan Lupakan Sejarah. Rawat Warisan Leluhur, Perkuat Identitas, dan Tentukan Masa Depan Kaum Betawi.”
Bamus Betawi — Merawat Sejarah, Menjaga Identitas, Membangun Masa Depan.
Red:Ichsan Ardiansyah



