Jakarta, dki.rasionews.com – Ketua Umum Bamus Betawi, H. Riano P. Ahmad, menegaskan bahwa keberhasilan Jakarta menjadi kota global harus berjalan seiring dengan penguatan identitas budaya, khususnya budaya Betawi sebagai budaya asli Jakarta.
Hal tersebut disampaikan Riano dalam sebuah forum yang membahas peran masyarakat Betawi dalam menyongsong implementasi Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 tentang Daerah Khusus Jakarta (DKJ). Menurutnya, tantangan Jakarta sebagai kota global bukan hanya soal pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga akar budaya agar tidak tergerus oleh arus globalisasi.
“Jakarta sebagai kota global harus memiliki identitas budaya yang kuat. Kemajuan pembangunan harus tetap berpijak pada nilai-nilai budaya yang menjadi karakter dan jati diri kota ini,” kata Riano.
Ia mengapresiasi perhatian Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terhadap pelestarian budaya Betawi. Menurutnya, berbagai kebijakan yang mendukung penguatan budaya lokal menunjukkan adanya keberpihakan pemerintah terhadap eksistensi masyarakat Betawi di tengah transformasi Jakarta menuju kota global.
- Advertisement -
Riano menilai keberadaan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 menjadi momentum penting bagi masyarakat Betawi untuk memperkuat peran dan kontribusi mereka dalam pembangunan Jakarta. Dalam regulasi tersebut, budaya Betawi mendapat pengakuan sebagai bagian penting dalam identitas Daerah Khusus Jakarta.
“Ini adalah kesempatan bagi masyarakat Betawi untuk terus berinovasi, berkreasi, dan berkolaborasi dengan pemerintah daerah dalam membangun Jakarta yang maju sekaligus berbudaya,” ujarnya.
- Advertisement -
Menurut dia, masyarakat Betawi tidak boleh hanya menjadi penonton dalam proses pembangunan Jakarta. Sebaliknya, masyarakat harus menjadi pelaku utama yang terlibat dalam berbagai sektor pembangunan, baik di bidang pemerintahan, pendidikan, ekonomi, maupun kebudayaan.
Riano juga menyoroti pentingnya keberadaan lembaga adat Betawi sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang DKJ.
Lembaga tersebut diharapkan menjadi wadah yang mampu memperkuat posisi masyarakat Betawi sekaligus menjadi mitra strategis pemerintah dalam menjaga dan mengembangkan kebudayaan.
Selain isu kebudayaan, ia mengajak masyarakat Betawi untuk memahami arah pembangunan Jakarta yang saat ini terus berkembang melalui berbagai proyek strategis, termasuk pengembangan transportasi massal dan infrastruktur perkotaan.
Menurut Riano, pembangunan yang dilakukan pemerintah harus dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, termasuk masyarakat Betawi yang selama ini menjadi bagian tidak terpisahkan dari sejarah dan perkembangan Jakarta.
Ia juga mengapresiasi sejumlah langkah pemerintah daerah yang dinilai semakin memberi ruang bagi budaya Betawi dalam berbagai kegiatan resmi, mulai dari penggunaan busana adat hingga penyajian kuliner khas Betawi dalam acara-acara pemerintahan.
Meski demikian, Riano menegaskan bahwa keberhasilan mewujudkan Jakarta sebagai kota global berbudaya membutuhkan persatuan seluruh elemen masyarakat Betawi. Ia mengingatkan bahwa perpecahan hanya akan menghambat upaya memperjuangkan kepentingan masyarakat dan pelestarian budaya.
“Kalau kita tidak solid, tidak kompak, dan tidak bersatu, akan sulit mewujudkan cita-cita bersama. Karena itu seluruh komponen masyarakat Betawi harus memperkuat kebersamaan dan kolaborasi,” imbuhnya.
Riano berharap keberpihakan pemerintah terhadap budaya Betawi dapat terus ditingkatkan sehingga masyarakat Betawi dapat merasakan manfaat langsung dari pembangunan Jakarta sebagai kota global yang tetap berakar pada nilai-nilai budaya lokal.
“Jakarta harus menjadi kota global yang modern, maju, dan berdaya saing internasional, tetapi tetap menjaga identitas budaya yang menjadi kebanggaan masyarakatnya,” tutup Riano.
(Ichsan Ardiansyah)



